Selasa, 15 September 2015

Konseling Dalam Hadits

LARANGAN MEMAKI MASA, PANGGILAN TERHADAP
 BAWAHAN DAN ATASAN DAN MENGHARGAI
SETIAP PERILAKU POSITIF

A. LARANGAN MEMAKI MASA
Teks hadits:
Hadiitsu abii huroirota rodhiya allaahu ‘anhu qoola qoola rosuulu allaahi sholla allaahu ‘alaihi wasallama qoola allaahu ‘azza wajalla yu;dziini abnu ‘aadamu yushiibu addahro wa anaa addahru biyadii al’amalu uqollibu allaila wa annahaaro.

            Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah ta’ala berfirman: Anak Adam menganggu padaKu, karena ia memaki-maki masa, padahal Akulah masa itu, sebab ditangan-Ku segala urusannya. Aku yang mengubah malam dan siangnya. (Bukhari-Muslim).

B. PANGGILAN TERHADAP BAWAHAN DAN ATASAN
Teks hadits:
Hadiitsu abii huroirota rodhiya allaahu ‘anhu ‘ani annabiyyi sholla allaahu ‘alaihi wasallama annahu qoola laa yaqul ahadukum ath’im robbaka wadhdhi robba isqii robbaka walyaqul sayyidi mawlaaya walaa yaqul ahadukum ‘abdii ummatii walyaqul fataayaa wafataatii waghulaamii.

            Abu Hurairah r.a berkata: Nabi SAW bersabda: Jangan ada orang berkata: berilah makan pada robbuka, beri minum pada robba ka, tetapi harus menyebut maula dan sayyid  (majikanku), juga jangan memanggil hamba dengan kata: abdi amati, hendaknya memanggil fataaya, fataati dan ghulami. (Bukhari, Muslim).

C. MENGHARGAI SETIAP PRILAKU POSITIF
Teks hadits:
Hadiitsu ‘aa;isyata rodhiya allaahu ‘anhaa qoolat ista;dzana rojulun ‘alaa rosuuli allaahi sholla allaahu ‘alaihi wasallama faqoola i;dzanu lahu bi;sa akhu al’asyiiroti awi ibnu al’asyiiroti falammaa dakhola mal;anaa lahu kalaama qultu yaa rosuula allaahi qulta alladzii qulta tsumma alanta lahu kalaama qoola ai ‘aa;isyatu inna asysyarro annaasi man tarokahu annaasu aw wada’ahu annaasu ittiqooo;a uhsyihi.

            Aisyah r.a berkata: Seorang datang minta izin masuk ke rumah Nabi SAW. maka Nabi SAW bersabda: Izinkan  pada sejahat orang dalam suku famili, kemudian ketika orang itu di dalam. Nabi SAW lunak padanya dalam tutur kata. kemudian sesudah keluar orang itu saya tanya: Orang itu engkau katakan, jahat tetapi engkau lunak dalam bicara padanya? Jawab nabi SAW: Hai Aisyah sejahat-jahat manusia yang ditakuti orang kejahatannya (yang dibiarkan orang karena kejahatannya). (Bukhari dan Muslim).

D. PENJELASAN
            Hadits yang pertama menjelaskan kepada kita bahwa, Allah SWT melarang manusia memaki-maki masa atau menyesali apa yang sudah ditetapkan Allah SWT. Segala sesuatu itu sudah ada ketetapannya dan Allah Maha Kuasa atas segala yang diciptakannya. Tidak sepantasnya manusia menyesali apa yang sudah ditetapkan Allah, karena yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan baik menurut Allah sudah pasti baik bagi kita.
            Dalam kaitannya dengan bimbingan dan konseling, maka hadits ini menegaskan seorang yang sedang menghadapi masalah tidak boleh menyalahkan Allah atas apa yang sudah terjadi, dan tugas konselor-lah meyakinkannya.
            Dalam hadits yang kedua, nabi SAW melarang kepada umat manusia untuk tidak menyebut majikannya dengan RABBAK yang berarti (Tuhanku), karena RABBAK disini hanya ditujukan kepada Allah SWT yang maha pencipta dari segala-galanya. Hanya Allah lah yang lebih pantas disanjung-sanjung dan dipuji-puji dengan kata RABBAK, dan beliaulah raja dari segala raja. Tetapi hendaklah mereka memanggil majikannya dengan kata “tuanku, tuanku”. Karena itulah kata yang pantas, yang cocok untuk sesama manusia, karena semua makhluk ciptaan Allah SWT yang belum sempurna, hanya Allah  lah maha sempurna. Begitu juga dengan seorang tuan kepada pelayannya, janganlah mengatakan kepada mereka “hambaku, hambaku”, tetapi hendaklah ia berkata “pemudaku, pemudiku, dan pelayanku”, karena kata “hambaku” itu adalah hanya ditujukan Allah kepada umatnya yang taat beribadah, hanya Allah lah yang berhak memanggil hambaku karena Dialah yang menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi.
            Dalam kaitannya dengan hadits ini kita bisa analisis dengan konseling bahwa seorang konselor harus arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah klien, serta menempatkan sesuatu pada tempatnya.
            Selanjutnya hadits ketiga, rasul mengajarkan kita untuk bersifat objektif menilai sesuatu. Bahwa seseorang yang jahat sekalipun kita tidak boleh membencinya tetapi bencilah terhadap kejahatannya. Karena ketika kita benci terhadap orangnya maka pasti kita tidak akan mau mendekatinya, bergaul dengannya serta memberikan nasehat kepadanya. Kita harus berprasangka baik kepadanya.

            Dalam kaitannya dengan konseling maka seorang konselor pernah berprasangka buruk teradap kliennya jika dia berbuat keburukan, atau bahkan terjebak dalam kemaksiatan, maka seorang konselor hendaknya menjaga azas dalam melayani kliennya. Sehingga permasalahan klien terselesaikan. Itu bisa terjadi jika kedekatan terjalin antara konselor dan klien.


@davidnofra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar