LARANGAN
MEMAKI MASA, PANGGILAN TERHADAP
BAWAHAN DAN ATASAN DAN MENGHARGAI
SETIAP
PERILAKU POSITIF
A. LARANGAN MEMAKI MASA
Teks hadits:
Hadiitsu abii huroirota rodhiya allaahu ‘anhu
qoola qoola rosuulu allaahi sholla allaahu ‘alaihi wasallama qoola allaahu
‘azza wajalla yu;dziini abnu ‘aadamu yushiibu addahro wa anaa addahru biyadii
al’amalu uqollibu allaila wa annahaaro.
Abu
Hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah ta’ala berfirman: Anak
Adam menganggu padaKu, karena ia memaki-maki masa, padahal Akulah masa itu,
sebab ditangan-Ku segala urusannya. Aku yang mengubah malam dan siangnya.
(Bukhari-Muslim).
B.
PANGGILAN TERHADAP BAWAHAN DAN ATASAN
Teks hadits:
Hadiitsu abii huroirota rodhiya allaahu ‘anhu ‘ani
annabiyyi sholla allaahu ‘alaihi wasallama annahu qoola laa yaqul ahadukum
ath’im robbaka wadhdhi robba isqii robbaka walyaqul sayyidi mawlaaya walaa
yaqul ahadukum ‘abdii ummatii walyaqul fataayaa wafataatii waghulaamii.
Abu
Hurairah r.a berkata: Nabi SAW bersabda: Jangan ada orang berkata: berilah
makan pada robbuka, beri minum pada robba ka, tetapi harus menyebut maula dan
sayyid (majikanku), juga jangan
memanggil hamba dengan kata: abdi amati, hendaknya memanggil fataaya, fataati
dan ghulami. (Bukhari, Muslim).
C.
MENGHARGAI SETIAP PRILAKU POSITIF
Teks hadits:
Hadiitsu ‘aa;isyata rodhiya allaahu ‘anhaa qoolat
ista;dzana rojulun ‘alaa rosuuli allaahi sholla allaahu ‘alaihi wasallama
faqoola i;dzanu lahu bi;sa akhu al’asyiiroti awi ibnu al’asyiiroti falammaa
dakhola mal;anaa lahu kalaama qultu yaa rosuula allaahi qulta alladzii qulta
tsumma alanta lahu kalaama qoola ai ‘aa;isyatu inna asysyarro annaasi man
tarokahu annaasu aw wada’ahu annaasu ittiqooo;a uhsyihi.
Aisyah
r.a berkata: Seorang datang minta izin masuk ke rumah Nabi SAW. maka Nabi SAW
bersabda: Izinkan pada sejahat orang
dalam suku famili, kemudian ketika orang itu di dalam. Nabi SAW lunak padanya
dalam tutur kata. kemudian sesudah keluar orang itu saya tanya: Orang itu
engkau katakan, jahat tetapi engkau lunak dalam bicara padanya? Jawab nabi SAW:
Hai Aisyah sejahat-jahat manusia yang ditakuti orang kejahatannya (yang
dibiarkan orang karena kejahatannya). (Bukhari dan Muslim).
D.
PENJELASAN
Hadits
yang pertama menjelaskan kepada kita bahwa, Allah SWT melarang manusia memaki-maki
masa atau menyesali apa yang sudah ditetapkan Allah SWT. Segala sesuatu itu
sudah ada ketetapannya dan Allah Maha Kuasa atas segala yang diciptakannya.
Tidak sepantasnya manusia menyesali apa yang sudah ditetapkan Allah, karena
yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan baik menurut Allah
sudah pasti baik bagi kita.
Dalam
kaitannya dengan bimbingan dan konseling, maka hadits ini menegaskan seorang
yang sedang menghadapi masalah tidak boleh menyalahkan Allah atas apa yang
sudah terjadi, dan tugas konselor-lah meyakinkannya.
Dalam
hadits yang kedua, nabi SAW melarang kepada umat manusia untuk tidak menyebut
majikannya dengan RABBAK yang berarti (Tuhanku), karena RABBAK disini hanya
ditujukan kepada Allah SWT yang maha pencipta dari segala-galanya. Hanya Allah
lah yang lebih pantas disanjung-sanjung dan dipuji-puji dengan kata RABBAK, dan
beliaulah raja dari segala raja. Tetapi hendaklah mereka memanggil majikannya
dengan kata “tuanku, tuanku”. Karena itulah kata yang pantas, yang cocok untuk
sesama manusia, karena semua makhluk ciptaan Allah SWT yang belum sempurna,
hanya Allah lah maha sempurna. Begitu
juga dengan seorang tuan kepada pelayannya, janganlah mengatakan kepada mereka
“hambaku, hambaku”, tetapi hendaklah ia berkata “pemudaku, pemudiku, dan
pelayanku”, karena kata “hambaku” itu adalah hanya ditujukan Allah kepada
umatnya yang taat beribadah, hanya Allah lah yang berhak memanggil hambaku
karena Dialah yang menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi.
Dalam
kaitannya dengan hadits ini kita bisa analisis dengan konseling bahwa seorang
konselor harus arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah klien, serta
menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Selanjutnya
hadits ketiga, rasul mengajarkan kita untuk bersifat objektif menilai sesuatu.
Bahwa seseorang yang jahat sekalipun kita tidak boleh membencinya tetapi
bencilah terhadap kejahatannya. Karena ketika kita benci terhadap orangnya maka
pasti kita tidak akan mau mendekatinya, bergaul dengannya serta memberikan
nasehat kepadanya. Kita harus berprasangka baik kepadanya.
Dalam
kaitannya dengan konseling maka seorang konselor pernah berprasangka buruk
teradap kliennya jika dia berbuat keburukan, atau bahkan terjebak dalam
kemaksiatan, maka seorang konselor hendaknya menjaga azas dalam melayani
kliennya. Sehingga permasalahan klien terselesaikan. Itu bisa terjadi jika
kedekatan terjalin antara konselor dan klien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar